Kamar milik seorang pemilik perusahaan cokelat terbesar di Indonesia itu
teramat luas. Bahkan, tiga kali lebih luas daripada kamar milik Keira Widia. Tempat
tidurnya berukuran double bed,
dilapisi seprai putih bersih, dan bantal berkelir senada. Di kanan kiri tempat
tidur tersebut terdapat kabinet dengan lampu kamar di atasnya, almari selebar
dinding, dan kamar mandi dalam.
Keira yakin,
kamar mandi tersebut pastilah seindah selayaknya kamar mandi hotel bintang
lima.
Betapa
beruntungnya Keira, bisa menginjakkan kaki di dalam kamar seindah ini. Bermimpi
pun ia tak pernah. Sekarang Keira justru tengah duduk di tepi ranjang berseprei
putih tersebut. Kedua tangannya saling bertaut dengan gelisah. Sesekali ia
membetulkan anak rambutnya yang terjatuh berkali-kali ketika ia menunduk.
Aneh rasanya
berada di dalam kamar seluas ini. Bagi Keira, kamar kecilnya lebih dari cukup
untuk membuatnya nyaman. Lebih jauh menenangkan. Tapi, apa boleh buat? Mulai
sekarang ia harus tidur di kamar ini. Karena
ini merupakan keputusannya. Tidak ada yang memaksanya untuk tinggal di sini.
Tidak Ibunya, apalagi almarhum ayahnya.
Terdengar suara
helaan napasnya sendiri. Kali ini, Keira menggigit bibir, mencoba merendam kecemasan
yang seakan tak berujung.
“Seharusnya, aku
menolak saja,”lirihnya. “Ah, tidak. Ini sudah benar. Aku akan terbiasa,”ia
kembali berucap. Jelas, saat ini ia sedang berusaha untuk menghipnotis dirinya
sendiri dengan energi positif. Ya, karena itu satu-satunya cara yang bisa
membuatnya tetap tenang.
“Tapi, bagaimana
sekarang?”Kali ini ia merisaukan hal lainnya. “Ini pertama kalinya buatku.”Banyak
sekali alasan yang membuat Keira begitu panik. Mengenai pesta kemarin malam,
dan berlanjut tadi pagi di sebuah gedung mewah. Dan, sekarang mengenai dirinya
sendiri.
Kali ini, Keira mendengar
suara pintu terbuka. Sontak hal tersebut membuatnya spontan berdiri, dan degub
jantungnya kian menari. Ia menghela napas sekali lagi, kemudian laki-laki yang
membuka pintu tersebut melangkahkan kaki ke dalam kamar.
Laki-laki itu
adalah Aldric Raharjo, pemilik pabrik cokelat terbesar di Indonesia.
Sejak kemarin
malam, laki-laki itu resmi menjadi suami Keira.
Aldric melangkah
melewati Keira yang berdiri mematung di sisi ranjang. Laki-laki itu sama sekali
tidak peduli dengan keberadaan Keira yang masih mengenakan terusan gaun
berwarna hitam tersebut. Keira menunggu. Menunggu Aldric mendekatinya, mengecup
keningnya, atau sekadar senyuman. Tapi, laki-laki itu justru sibuk melepaskan
jas, kemudian melonggarkan dasi.
Melihat hal itu,
membuat tubuh Keira menegang. Ingat. Ini malam pertama mereka dan ini kali
pertama bagi Keira. Karena Aldric pasti sudah teramat sering melakukan hal ini,
ia laki-laki.
Pikiran Keira
jauh melayang, apa yang akan dilakukan Aldric padanya nantinya. Bagaimana
rasanya? Apa seindah seperti yang diceritakan Meira, sahabatnya yang telah
menikah empat tahun yang lalu? Atau justru teramat sakit karena ini pertama
kalinya?
Memikirkan
pertanyaan-pertanyaan itu, membuat perut Keira penuh. Dan, pipinya memanas.
Astaga, ini akan terjadi juga.
Tepat ketika Aldric tengah sibuk melepas kancing pergelangan
kemejanya, laki-laki itu menoleh ke arah Keira. Pandangan mata keduanya
bertemu. Keira yakin, jantungnya sempat berhenti. Lalu, Aldric berjalan ke
arahnya, dan itu justru membuatnya semakin tak tenang. Keira semakin gelisah. Astaga,
ia begitu gugup.
Sekarang, jarak
mereka tidak lebih dari lima puluh centi. Keira bisa merasakan hangat kehadiran
Aldric di depannya.
“Apa kau tidak
akan melepas baju itu?”tanya Aldric. Keira baru saja akan membalas, tapi
laki-laki itu berkata, “Terserah kau, mau melepasnya atau tidak.”Sontak kalimat
Aldric membuat mata Keira menatap lurus ke arahnya.
Aldric menarik
sudut bibirnya, meletakkan kedua tangannya di bahu Keira, kemudian mendekatkan
wajahnya.
Keira menahan
napas, menelan ludah, dan memejamkan mata. Lalu, Aldric berbisik di telinganya.
“Kita memang sudah menikah, tapi tidak akan pernah ada malam pertama ataupun
malam-malam selanjutnya.”Suara Aldric begitu lirih, tapi Keira mampu
mendengarnya dengan jelas. Tentu saja, kalimat tersebut membuat Keira membuka
mata, dan tubuhnya semakin memanas.
“Malam ini,
kuijinkan kau tidur di kamarku. Selanjutnya, kau tidur di kamar tamu.”
Keira tahu,
pernikahannya tidak akan pernah mudah.

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)