Aku ingin menceritakanmu sebuah
kisah. Kisah seorang lelaki.
Lelaki itu pikirannya tengah
keruh, mengenai obsesinya soal kebebasan. Peristiwa yang menimpanya hampir saja
menghabisi masa mudanya. Ia berjalan dalam sebuah pemukiman bersama ayahnya. Dalam
perjalanan tersebut, pandangannya bertemu dengan seorang gadis. Seorang gadis
yang teramat cantik, sehingga lelaki itu merasa tertarik.
Ketertarikannya tak bertepuk
sebelah tangan. Nampaknya, gadis itu pun menaruh hati pada lelaki itu. Gadis
itu ingin sekali menatap kedua bola mata lelaki itu yang memancarkan pandangan
kerinduan akan masa depan.
Sayangnya, belum lama mereka berdua
memadu kasih. Ada larangan keras yang tak bisa ditolak lelaki itu. “Aku bersama
ayahku. Aku tidak kuasa untuk memberontak kehendak beliau dan berpisah
dengannya.”
Lelaki itu hampir saja memohon
restu kepada ayahnya, agar ia bisa melamar gadis itu. Rupa kecantikannya,
kesempurnaannya, keangguanan, dan kesucian itu telah merebut hatinya. Lelaki
itu benar-benar terpesona.
Namun, lelaki itu telah
dijodohkan dengan gadis lain oleh ayahnya.
Suatu hari, mereka bertemu
kembali. Gadis itu memalingkan wajah penuh kekecewaan dan emosi. Lelaki itu
bertanya kenapa demikian. Gadis itu menjawab,”Sinar yang berseri-seri itu kini
sudah menghilang dari raut wajahmu....”
***
Aku yakin, kamu pernah membaca
kisah ini. Ini adalah kisah ‘Abdullah, kisah yang kubaca dari buku yang kamu
pinjamkan padaku. Buku yang tak pernah tuntas kubaca dan yang seharusnya kukembalikan padamu bertahun-tahun lalu. Sadarkah kamu, bahwa
kisah ‘Abdullah teramat mirip dengan kisah kita? Aku adalah gadis itu dan kamu telah menambatkan hati pada gadis lain.

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)