Seperti dalam sebuah novel, kisah
kita hanyalah prolog. Kupikir, akan ada bab-bab selanjutnya yang akan
mengikuti, puncak cerita, kemudian akan berakhir bahagia. Teman-teman kita akan
membicarakan kisah kita yang penuh liku, atau lebih tepatnya kisahku. Bagaimana
aku menyukaimu sejak dulu dan akhirnya kita bisa bersama. Aku sudah
membayangkan, bagaimana hebohnya teman-teman kita ketika tahu kita akhirnya
bersama. Berakhir di pelaminan dan memulai kehidupan baru, berdua.
Mungkin, bila saat ini kita masih
bersama, aku akan mengajakmu untuk duduk dalam satu meja dengan menghadap
komputer jinjing masing-masing. Kamu dengan kode-kode dan aku dengan untaian
kata.
Tak perlu banyak kata, cukup
dengan kehadiran masing-masing. Kubayangkan, kau duduk di depanku, keningmu
berkerut dengan kedua alismu yang tebal saling bertaut. Mungkin, kamu sedang
memikirkan mengenai kode-kode dalam layar 14 inci di hadapanmu, nasib para
petani di Indonesia, kelangsungan perusahaan tempatmu bekerja, atau justru kamu
sedang memikirkanku.
Sesaat mungkin kita akan
berpaling dari layar masing-masing, saling memandang dan melemparkan senyum. Aku
akan memalingkan muka karena malu, meraih cangkir kopi di sebelah dan
menyesapnya. Hatiku bergemuruh, bersyukur kepada-Nya telah mengirimu kepadaku. Tak
henti-hentinya berucap terima kasih, karena kamu berada di dekatku. Kamu
kembali menatap layar komputer jinjingmu dan dahimu kembali berlipat-lipat.
Aku membayangkan, kita akan
melakukannya sepanjang waktu. Saling mendukung pekerjaan masing-masing, saling
mengagumi dan saling mencintai. Seakan-akan, apa yang sudah kita miliki terasa
cukup, sehingga tak ada hal yang lebih indah selain bersama dan terus mencintai
passion masing-masing.
Terkadang, aku masih rindu. Rindu
perhatianmu, perkataanmu yang terlampau jujur apa adanya, bahkan aku rindu
percakapan kita lewat dunia maya mengenai isu-isu pelik yang selalu
merisaukanmu. Aku rindu membaca topik-topik yang kamu lemparkan kepadaku. Aku
akan membacanya berulang-ulang, memikirkan apa yang kamu maksudkan. Dahiku
berkerut, mencoba memahami kalimatmu yang begitu berat. Aku selalu berusaha
mengimbangimu, agar kamu menemukan kawan yang tepat untuk berbagi mengenai isi
kepalamu.
Aku selalu ingin menjadi orang
yang bisa menenangkan isi kepalamu, meringankan beban tubuhmu. Aku ingin kamu
bercerita mengenai segala yang membuat kepalamu keruh tak menentu. Aku ingin
berada di sisimu, mendukungmu, dan mencintaimu.
Aku juga membayangkan, kamu akan
membaca seluruh kisah yang kutulis. Kamu akan menandai bagian-bagian yang
menurutmu ambigu dan kurang sesuai. Kita akan berdebat, memegang pendapat
masing-masing. Kita akan bersiteru, saling membuang muka, lalu bercinta.
Dan, aku selalu membayangkan kamu
adalah orang pertama yang akan kuberitahu, mengenai naskah-naskahku yang akan
terbit. Mengenai impian-impianku dan bagaimana aku meraihnya. Aku selalu ingin membaginya
denganmu. Bahkan, aku ingin menangis bahagia dalam pelukanmu, saat kukabarkan kita
akan menjadi orangtua.
Kamu tak pernah tahu, bagaimana
khawatirnya aku ketika kamu tak memberi kabar. Bagaimana bahagia dan kesalnya
aku hingga menangis ketika kau baru mengirim pesan setelah seharian tak ada
kabar. Ini bukan hal yang kubayangkan, ini adalah hal yang benar-benar kualami.


0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)