Aku masih belum bisa memahami,
sebenarnya apa yang tengah kita lakukan sebulan belakangan? Awal sebuah cerita
atau justru akhir dari sebuah cerita? Baik, sampai detik ini, aku pun masih meraba-raba,
apa esensinya dari kedekatan kita belakangan, yang kemudian justru menjauhkan
kita layaknya orang asing. Padahal, kita berteman sudah cukup lama. Berkali-kali
kubilang, kaulayaknya air yang menyejukkan. Namun kini, apakah anggapan
tersebut masih berlaku?
Jawabannya, entah.
Sulit mendeskripsikan benang
merah antara kita berdua saat ini, lebih-lebih perasaanku. Dahulu aku
menganggapmu sebagai lelaki yang bersahaja, sekarang sebagian dari diriku
menganggapmu “Semua lelaki sama saja”. Oke. Kita sudah sama-sama punya niat
baik, bahkan sempat membawa nama masing-masing kepada orangtua. Ehm, tapi.
Tahukah kau, aku sudah membawa namamu ke telinga kedua orangtuaku,
bertahun-tahun lalu? Namamu, sudah terpatri dalam ingatan kedua orangtuaku,
sehingga mereka tak banyak bertanya mengenaimu, ketika kuceritakan kedekatan
kita.
Namamu, sudah menjadi salah satu
bagian kotak-kotak ingatan kedua orangtuaku. Sehingga, ketika kusebut namamu,
mereka cukup membuka kotak dalam memorinya, tanpa bersusah payah mencari tahu.
Tapi, bagaimana dengan kedua
orangtuamu? Pernahkah kau menyebut namaku kepada mereka sebelum ini? Bagaimana
kerutan pada dahi keduanya, ketika kau menyebut nama orang asing ini? Tak usah
dijawab, karena kita sudah tahu jawabannya. Yang ingin kutahu sekaligus yang
tak ingin kuketahui, seberapa buruk anggapan mereka tentang perempuan tanpa
penutup kepala ini? Begitu laknat? Lebih hina dari seorang penzina?
Aku tidak menganggap, kedekatan
kita adalah sebuah kesalahan. Aku ingin menyimpannya rapat-rapat sebagai
sesuatu yang bermakna indah. Bukan sesuatu yang harus kubenci, karena pada
akhirnya kita gagal.
Terkadang, aku masih berpikir, usaha
kita kurang. Kita terlalu pasrah dengan keadaan. Kita kurang komunikasi dan
belajar berdiskusi dari hati ke hati. Atau justru, memang inilah yang Tuhan
tunjukkan pada kita, bahwa kita tak boleh dalam suatu jalinan karena berbeda
frekuensi?
Atau Tuhan sedang mengingatkanku,
lewat kamu.
Beberapa dalam cerita kolosal, film-film
romantis atau cerita apa pun, biasanya dua orang tak bisa bersatu karena
perbedaan agama, ras, atau keturunan. Tapi kita, tak bisa bersama karena latar
belakang kehidupan. Sebuah ucapan yang tak terbantahkan, yang sebenarnya bisa
dibicarakan kembali.
Tapi, lagi-lagi, mungkin Tuhan
menghendakinya demikian.
Pernah aku bercerita padamu,
mengenai Tuhan yang melimpahkan segala rejekinya kepada tuna karya sepertiku. Aku
bercerita kepadamu, aku takut Tuhan tiba-tiba mengambil segalanya. Merenggut kembali
apa yang Ia berikan. Tapi, kini kutahu, bagaimana Tuhan menegurku agar mengingat-Nya.
Melaluimu, melaluimu, melaluimu.
Aku pernah gagal. Kautahu itu,
ketika kau menginginkanku mengenakan hijab. Dulu, aku gagal. Ini kedua kalinya
aku terkena dilema yang teramat panjang. Bukan mengenai perpisahan kita,
melainkan mengenai apa yang Tuhan inginkan. Apa yang Tuhan minta padaku.
Apa yang harus kulakukan, bila
Tuhan juga mengambilmu, dari sisiku? Apa aku bisa terus berjalan dalam jalan
ini, apabila kautak menuntunku?
Aku takut gagal, lagi.
Bagiku, kedekatan kita kemarin
semacam prolog yang tak pernah ada BAB pertama. Bahkan, kita tak pernah
menuliskan bab awal ini. Tiba-tiba, cerita kita berhenti pada prolog dan
langsung meloncat ke epilog dengan kata terakhir SELESAI.
Pada kenyataannya, aku tak ingin
semua ini usai.


0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)