Gula aren berada pada dasar
gelas, disusul potongan es batu, lalu susu cair dan terakhir cairan kopi.
Perpaduan empat bahan tersebut sedang happening
di kafe-kafe, rumah makan, stand-stand kecil di mal. Raya ikut memesannya
ketika memasukki Arung Senja. Sebuah kafe di sudut senja Surabaya.
Cairan
kopi terus turun bercampur dengan putihnya susu. Melihat perpaduan yang indah
itu, membuat Raya enggan tuk mengaduknya. Agar mereka bersatu dan menciptakan perpaduan
minuman dengan cita rasa yang nikmat.
Raya
membiarkan gelas di hadapannya mengembun, karena kotak-kotak es balok itu
mencair. Seharusnya, ia segera mengaduknya, mencicipinya selagi es tersebut
belum sepenuhnya mengambil alih minuman sehingga menjadikan minumannya hambar.
Nampaknya,
Raya sengaja membiarkan minuman tersebut terkontaminasi oleh es balok, sehingga
yang tersisa hanya rasa yang hambar.
“Kau
membuat minuman itu sia-sia,”ujar seseorang. Raya menggerakkan kepalanya,
melihat ke asal suara. Seorang perempuan dengan tas tersampir di bahunya.
Perempuan itu mengingkat rambutnya menjadi ekor kuda. Ia memakai setelan rok
lipit selutut berwarna cokelat muda dan dipadukan dengan sweter rajut lengan
panjang berwarna putih.
Perempuan
itu mengulurkan tangannya ke arah Raya, “Delima.”Ia memperkenalkan diri. Raya
menyambut uluran tangan perempuan itu tanpa ragu, meskipun ia sama sekali tidak
mengerti. Raya tidak mengenal Delima. “Panggil saja, Dee,”lanjutnya. “Aku suka
dipanggil demikian. Kau tahu, terlalu panjang untuk nama pendek.
De-Li-Ma.”Perempuan itu mengeja namanya.
Raya
tersenyum dan berkata, “Naraya.”Ia memperkenalkan diri. “Panggil saja Raya.”
“Bagus,
kita sama-sama memiliki nama dengan tiga suku kata,”sahut Delima. “Nampaknya,
kau tidak sedang menunggu seseorang. Boleh aku duduk di sini?”lanjutnya. Dia
menunjuk kursi kosong di depan Raya. Raya melihat ke sekeliling, dia lihat
hanya mereka berdua pelanggan kafe sore itu. “Kalau kau tidak keberatan
berbagi, karena ini tempat duduk favoritku.”
“Ah,
kau pelanggan kafe ini,”ucap Raya. “Aku akan pindah.”
“Ah,
tidak perlu, Raya,”sahut Delima. “Kau cukup membagi kursi kosong di depanmu
denganku.”
“Oke,”sahut
Raya. Maka, Delima memesan secangkir es kopi susu pada pramusaji kafe dan duduk
pada kursi di depan Raya.
Seorang
pramusaji meletakkan segelas es kopi susu di depan Delima, bersisihan dengan
minuman milik Raya. Lalu, Delima mengaduk minuman tersebut dan meminumnya. “Selalu
nikmat,”ucapnya. Delima merogoh tas bahunya, mengeluarkan sebuah buku bersampul
hijau dan putih.
“Aku
juga membaca buku itu,”tukas Raya, setelah mengetahui judul buku yang Delima
keluarkan. “The Great Gatsby. Kisah cinta yang memilukan.”
Delima
mengangguk, “Yah, aku sudah mengetahui akhir kisahnya.”Delima mengambil jeda.
“Kau tahu, aku menonton filmnya terlebih dahulu. Pesona Leonardo, siapa yang
bisa menolak?”Delima tertawa kecil, “aku sudah membaca buku ini tiga kali. Ini
keempat kalinya. Dan yah, aku masih belum mengerti dengan Gatsby.”
“Aku
justru tak mengerti, kenapa F. Scott
Fitzgerald harus memperlakukan Gatsby dengan tidak adil,”sahut Raya. Dia
mendesah, kemudian melihat ke arah luar kafe. Pada sisi kafe, terdapat
tanaman-tanaman dalam pot. Mereka tersusun rapi. Ada pot ukuran besar dan kecil,
semua terlihat hijau. Beberapa pot berisi sukulen. “Dia sudah tertolak sejak
muda.”
Delima
tertawa, “Kau kasihan padanya karena dia telah menunggu lama untuk Daisy?”
“Ya,”Raya
tertawa getir. “Cinta tak selalu memihak pada orang-orang seperti Gatsby.
Mungkin, kau tak mengerti, bahwa Gatsby itu bodoh.”
“Dia
laki-laki, “sahut Delima. “Yang tak aku mengerti, kenapa dia bisa sebodoh itu?”
“Kau
tahu, laki-laki cenderung mencari perempuan lain. Bahkan, ketika ia sudah
memiliki pasangan,”lanjut Delima. Raya menatap Delima, melihat ke arah kedua
mata perempuan asing itu. Dia merasa kesal dengan pernyataan perempuan itu,
akan tetapi, Delima benar. “Itu hanya karya fiksi. Di dunia nyata, tak ada
laki-laki seperti dia.”
“Menyakitkan,
tetapi benar,”Sahut Raya. “Mungkin, karya tersebut sebuah sindiran.”
“Kau
harus meminum kopimu,”tukas Delima. “Meskipun, mungkin rasanya sudah hambar.”
Raya
tersenyum, meraih gelas kopinya yang sangat basah. “Terima kasih sudah
mengingatkan,”tukasnya. Kemudian, dia mengaduk isi gelas tersebut dan
meminumnya. “Belum terlalu buruk.”
Raya
kembali tersenyum. Melihat ke arah gelasnya, lalu ke arah tanaman-tanaman dalam
kafe tersebut. “Kau tahu Dee, bahwa ada hal-hal yang semestinya terjadi. Ada
orang-orang yang membiarkan rasa sakitnya bertahan begitu lama, ia biarkan
begitu saja.” Dia meletakkan gelasnya ke atas meja. “Dan ada orang-orang yang mengingatkan,
untuk segera melepaskan. Sayangnya, kita tak pernah benar-benar tahu caranya.”
Delima
tersenyum, “Ini kali pertama kau memanggil namaku dan rasanya terasa sangat
akrab.”Dia mengangguk, “Kuharap ada yang mengingatkan aku, ketika aku terlalu
jauh melangkah sampai akhirnya menyakiti orang lain.”Delima mengambil jeda. “Terkadang,
aku menyesali perbuatanku. Terkadang, aku meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa
menjadi egois sekali waktu.”
“Terkadang,
aku juga ingin menjadi egois. Menyakiti orang lain tanpa merasa bersalah.
Membalas orang-orang yang menyakitiku, namun lagi-lagi, aku berpikir bahwa
semua orang memiliki hidup yang harus diperjuangkan. Aku tidak tahu pasti apa
yang telah dilalui oleh orang-orang tersebut. Maka, aku menangis.”
“Menangis
karena tidak bisa berbuat apa-apa. Membiarkan orang-orang terus menyakiti dan
terkadang aku merasa kasihan dengan diri sendiri.”
“Kau
sedang patah hati rupanya,”sahut Delima.
Raya
tersenyum,”Seumur hidupku, kuhabiskan waktu dengan hati penuh luka.”Dia
mendesah,”Dan, tahun ini yang terparah.”
“Hidup
memang tak pernah adil, bukan?”
“Begitulah.
Seperti Mr. Gatsby yang tak pernah benar-benar bisa memiliki Daisy. Dia
berharap kekasihnya menghubunginya, setelah segala pengorbanan yang dia
lakukan. Tapi, Daisy tetaplah Daisy.”
“Tak
mudah menjadi Gatsby, mencintai seseorang yang sudah terikat pernikahan.
Sekeras apa pun dia berusaha, apabila Daisy tak bisa melepaskan kehidupannya,
maka Gatsby yang harus pergi.”
“Bukankah,
dalam kasus tersebut Daisy adalah orang paling egois?”lanjut Delima.
“Keserakahan
Daisy, membuat Gatsby dan Tom hidup dalam kehampaan.”
“Lalu,
dalam kisah tersebut, kau sebagai siapa?”tanya Delima secara tiba-tiba.
“Tom.”
Matahari
di luar kafe hampir tenggelam sepenuhnya, semburat warna oranye di ufuk barat
tinggal sejengkal. Delima mendesah. Tidak banyak bicara setelah itu. Dia
melanjutkan bukunya, sampai pada akhirnya Raya pamit.
Sebelum
Raya beranjak dari kursinya, ia berkata, “Dan aku adalah Mr. Gatsby.”
Keduanya
saling berpandangan. Kemudian, Raya tersenyum kecil dan berkata, “Semoga kita
bertemu kembali.”
***
Delima menelusuri lekuk lengan
kekasihnya, dia menyandarkan kepalanya pada dada lelaki yang paling dia cintai
saat ini. Semalam, mereka berdua telah menghabiskan malam bersama. Seperti yang
sudah-sudah. Setiap akhir pekan, mereka akan memesan kamar dan bermalam. Delima
selalu menyukai pertemuan mereka, meskipun pada akhirnya akan tersisa perasaan
hampa dan kekosongan luar biasa.
Namun,
Delima tak dapat menghentikan pertemuan-pertemuannya dengan lelaki tersebut.
“Kau
tahu, kemarin sebelum kita bertemu, aku ke kafe dan mengobrol dengan seseorang.
Kami berkenalan.”
“Oh
ya?”lelakinya merespon. Dia mengelus puncak rambut perempuan dalam dekapannya. “Laki-laki?”
“Perempuan.”Delima
menjelaskan,”Kami membicarakan novel The Great Gatsby. Kurasa, kami cocok.”
“Bagus.
Kau menemukan sahabat.”
“Dia
sedang bersedih. Kopi yang dipesannya tak disentuhnya,”Delima bercerita. Dia
mendesah. “Aku harus mengingatkannya berkali-kali, baru dia meminumnya. Lalu,
dia melamun lagi. Tersenyum untuk hal yang tak kumengerti.”
Delima
mengangkat kepalanya, melihat ke arah lelaki berhidung bangir yang balas
menatapnya. “Melihat dia, hatiku ikut hancur. Membuat rasa bersalahku semakin
dalam. Lebih parah lagi, ketika tahu apa yang sedang dihadapinya.”
“Apa?”
“Rumah
tangganya, retak.”Delima mendesah. “Kita hidup dalam dunia bersebrangan dan aku
mengatakan itu padanya. Kau tahu apa yang dia katakan?”Lelaki di depannya
menggeleng. “Dia tersenyum dan berkata semoga bisa bertemu denganku lagi.”
“Itu
bagus, kan?”
“Sayang,
dia mengingatkanku akan istrimu. Mungkin, dia juga seperti perempuan di kafe
itu.”Delima mendesah. “Boleh aku tahu, siapa nama istrimu?”
“Itu
tidak penting. Untuk apa kau tahu?”
“Sekadar
ingin tahu.”
“Naraya,”ucap
lelaki itu. “Nama istriku, Naraya.”

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)