“Saya akan ambil dua kilo.”
Belinda
menyerahkan satu baskom buah apel hijau kepada seorang ibu muda yang berjualan
buah-buahan. Dia memilih beberapa apel Malang, untuk dibawa pulang. Setiap
pagi, dia akan berjalan menyusuri jalanan beraspal yang sempit, ke arah pasar
buah yang terletak di depan tempat wisata tidak jauh dari rumahnya.
Perempuan
berusia dua puluh tujuh tahun itu, mengenakan gaun selutut bermotif bunga
dadelion kecil, berwarna putih gading. Ia membiarkan rambut bergelombangnya
tergerai sampai menyentuh punggung. Pada tangan kanannya, terdapat kantong
belanja berwarna putih dari kain belacu.
Setiap
pagi, ia akan membeli buah apel Malang sebanyak dua kilo.
Pada
lain waktu, Belinda akan membawa pulang seikat sayur pakis untuk dimasak,
terkadang dia juga membawa pulang seikat petai besar.
“Nggak
nambah jamur tiramnya sekalian, Mbak?”tanya ibu muda penjual buah-buahan.
Selain buah-buahan, pada kios tersebut terdapat beberapa sayuran hasil
orang-orang sekitar. Belinda tidak membeli apel di satu tempat, dia
berpindah-pindah sampai menemukan apel Malang yang memiliki aroma harum.
“Saya
sudah beli pakis,”jawab Belinda. Dia membayar dua kilo apel, yang menurutnya
harganya sedikit mahal daripada biasanya. Tapi, itu bukan masalah baginya,
karena apel yang dijual ibu muda itu sangat bagus.
“Tak
lihat, mbak sering beli apel Malang,”tukas ibu muda tersebut. “Suka sekali ya?”
Belinda
menjawab, “Saya terbiasa membuat alur cerita sembari mengupas apel.”
Ibu
muda tersebut mengerutkan kening, tidak mengerti dengan yang dikatakan Belinda.
Lalu, Belinda pamit, tanpa perlu repot-repot menjelaskan. Baginya, ibu muda itu
mengerti atau tidak, bukan urusannya. Urusannya dengan penjual buah hanyalah
sekadar transaksi jual-beli, selebihnya tidak ada yang harus dia lakukan.
Belinda
berjalan cukup jauh ketika kembali ke rumah, sekitar dua kilo atau tiga puluh
menit berjalan kaki. Terkadang, Belinda membeli apel menggunakan sepeda, ketika
dia bangun terlambat karena tidur terlalu pagi. Seringnya, dia memilih berjalan
kaki, karena dia begitu menyukainya.
Dia
berjalan sembari melihat hamparan sawah yang tumbuh hijau, titik-titik embun
bersemayam pada ujung daun padi. Awan terlihat kelabu dengan udara dingin yang
membuat pipinya dingin. Belinda menyukai udara dingin di kawasan ini. Ia selalu
menyukai awan-awan yang bergelantung manja siap meneteskan air. Ia selalu
membawa payung kecil berwarna kuning cerah dalam tas belanjanya, mempersiapkan
diri apabila tiba-tiba hujan turun.
Belinda
berhenti pada sisi jalan sempit yang berada di tepi sawah. Di sana tumbuh tumbuhan
teh hibiskus atau orang-orang di sini menyebutnya bunga rosella. Dia mengambil
beberapa kelopak bunga yang gugur dan mengering di sekitar pohonnya, kemudian
memasukkannya ke dalam tas belacu. Dan, dia melanjutkan perjalanan.
Setelah
berjalan selama tiga puluh menit, dia sudah berada di depan rumahnya. Rumah berwarna
putih gading, satu lantai. Dia membuka pintu pagar, lalu berjalan pada
batu-batu kecil yang ia susun sendiri menuju teras rumah. Belinda mengeluarkan
kunci pintu samping yang langsung terhubung dengan dapur.
Di
dalam dapur, Belinda meletakkan belanjaannya di atas meja kayu, kemudian
mengambil teko bening yang dia beli secara daring, mengisinya dengan air kran
dan memanaskannya di atas tungku. Belinda beralih ke arah meja dapur, meraih
tas belacunya dan mengeluarkan isinya. Pertama, dia mengeluarkan apel-apel
berwarna hijau segar itu dan memindahkannya ke dalam keranjang rotan. Lalu, dia
mengeluarkan sayur pakis, mencucinya, kemudian meletakkannya ke dalam lemari
pendingin. Terakhir, dia memunguti kelopak bunga rosella kering pada dasar tas
belacu.
Suara
air keran beserta air yang mendidih mengisi suara dalam keheningan itu. Belinda
mencuci kelopak bunga rosella, kemudian memasukkannya ke dalam teko bening yang
mendidih. Perlahan, air teko yang awalnya bening itu berubah menjadi merah
keunguan, sampai akhirnya air teko berubah merah sepenuhnya.
Belinda
mematikan tungku, kemudian meraih gagang teko. Dia mengambil gelas bening dari
rak, kemudian mengisinya dengan teh rosella. Aroma teh yang harum memenuhi
ruangan. Dia meminum teh tersebut secara perlahan, sembari mengecek ponselnya
yang sejak semalam belum dia sentuh. Baginya, aroma teh di pagi hari adalah hal
paling baik, setelah aroma kopi. Terkadang, ketika Belinda bosan dengan kedua
aroma itu, dia akan menyeduh wedang uwuh dengan bahan-bahan yang dia beli di
pasar dan beberapa dari kebunnya sendiri.
Perempuan
itu, membawa sekeranjang apel kedalam ruang kerjanya. Belinda memiliki ruang
kerja dengan jendela kaca bening, yang terhubung dengan kebun beserta taman
bunga kecil miliknya. Dia meletakkan keranjang apel ke atas meja kerja,
kemudian mengambil satu buah apel beserta pisau dari keranjang dan di bawahnya
ke arah sofa rotan dengan alas duduk bantal kecil yang mengarah ke arah luar
rumah.
Dari
sini, Belinda bisa merasakan matahari bersinar hangat ke arahnya, sembari
melihat ke arah kebun.
Belinda
memulai sebuah adegan dalam benaknya. Seorang perempuan dengan polesan bibir
berwarna merah gelap membawa sebuah pulpen bergaris hitam dengan dasar putih.
Perempuan itu sedang menulis sesuatu pada buku catatannya yang selalu dia bawa
ke mana-mana. Lalu, Belinda memikirkan anak lima tahun yang dia temui ketika
membeli apel; anak dari penjual apel. Belinda tersenyum tipis, merasa menemukan
korban baru.
Lalu,
Belinda mulai mengupas kulit apel di tangannya secara perlahan, dengan mata
tetap melihat ke arah luar jendela kamar. Lebih tepatnya, ke arah kupu-kupu
yang hinggap di atas bunga kertas ungu yang mekar sempurna.
Selama
dua jam lebih, Belinda sudah mengupas sebanyak sepuluh buah apel. Pada apel
terakhir dari keranjang rotan, Belinda berhenti. Dia melihat ke arah jari
telunjuknya sebelah kiri yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat.
Cairan tersebut mengenai daging apel yang tengah dikupasnya.
Lagi-lagi,
dia melukai jemarinya. Padahal, jari terlunjuk miliknya sudah berkurang banyak.
Dia begitu sering membuat jari telunjuknya berdarah karena mengupas apel yang
dibelinya setiap hari. Tapi, dia tidak bisa memikirkan alur cerita apabila
tidak melakukannya.
Belinda
meletakkan apel berdarah tersebut di atas apel-apel lain yang telah terkupas.
Lalu, mencari plester untuk mengobati lukanya. Setelah itu, Belinda menyalakan
komputer jinjingnya, membuka sebuah halaman MS. Word.
Pada
kalimat pembukannya, Belinda menuliskan...
Korban
kedua adalah seorang anak laki-laki berusia lima tahun.

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)