Fin melambaikan tangan ke arahku,
ketika melihatku duduk-duduk di selasar kampus. Laki-laki itu berlari kecil ke
arahku dengan buku di tangan kanannya. Tas ranselnya, dan kalung salibnya
bergerak seiring irama tubuhnya.
“Maya,”ia
memanggilku. Aku tersenyum, dan menggeser tubuhku untuk memberinya tempat duduk
di sampingku. “Nggak ada kelas?”ia bertanya.
“Lagi
kosong,”jawabku. “Bu Melisa lagi sakit. Hanya dikasih tugas,”jelasku. Fin
mengangguk. “Kamu sendiri, nggak ada kelas?”tanyaku balik.
“Nggak
ada,”sahutnya.”Ke sini mau ke forum nanti.”
“Forum
Ilmu?”tanyaku. Forum Ilmu merupakan forum yang dibentuk oleh mahasiswa Teknik. Sekadar
tempat untuk berkumpul dan berbagi. Biasanya dosen-dosen maupun para ahli
dibidangnya, akan berbagi dalam forum tersebut. Acara dilaksanakan setiap dua
minggu sekali. Biasanya, aku juga mengikuti acara tersebut. Melalui forum itu
juga, aku mengenal Fin.
Siang
itu, Lalit, penanggung jawab hari itu kebingungan. Pasalnya, Reindra, pembicara
dari mahasiswa alumni, tidak dapat hadir. Waktunya mendesak sekali. Sekitar
satu jam sebelum acara, Reindra jatuh sakit. Entah penyakit apa yang
dideritanya kambuh. Lalit, kelimpungan. Masiswa sudah berkumpul di aula. Sudah
menunggu kedatangan Reindra. Lalu, Lalit, melihat Fin yang berjalan ke arah
aula, hendak mengikuti acara tersebut.
Singkat
cerita, Fin diminta untuk menjadi pembicara. Sangat mendadak. Fin akhirnya
menggantikan Reindra. Ia berbicara banyak hal di depan, tentunya tanpa
persiapan. Sebelum berbicara, ia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
Kemudian, meneguk teh panas yang disediakan Lalit.
“Saya
nggak tahu harus berbicara apa, karena ini mendadak sekali,”ia membuka suara. “Saya
tadi ke sini untuk mendengarkan, tapi tahu-tahu Lalit meminta saya untuk
berbicara.”Suaranya terdengar tenang, ia terlihat seperti seseorang yang sudah
terbiasa di depan audience. “Ada usul
kita bahas apa hari ini?”
Teman-teman
yang lain pun saling bersahutan memberikan usul. Di depan Fin
mangangguk-angguk, matanya meniti kami satu persatu, tepat ketika melihatku ia
tertegun sebentar, kemudian melanjutkan melihat wajah masiswa lain.
Aku
tidak tahu mengapa, saat itu ada perasaan asing yang diam-diam menyusup ke
dalam hatiku.
Fin
akhirnya, bercerita mengenai pengalamannya di alam liar. Nampaknya, dia adalah
pecinta alam dan suka naik gunung. Teman-teman memerhatikan dengan penuh minat,
dan tak jarang mereka tertawa cekikikan kala Fin melemparkan guyonan.
Untuk
orang yang tak punya persiapan sama sekali, ia teramat ahli.
“Dadakan
lagi?”tanyaku pada Fin. Sejak saat itu, ia teramat sering diminta mengisi acara
Forum Ilmu. Seakan dia merupakan pengisi materi yang siap dipanggil kapan saja.
Fin
mengangguk.
“Sudah
punya bahan?”tanyaku kembali.
Lagi-lagi,
Fin menggeleng. “Tapi, aku punya ide.”
“Apa?”
“Perbedaan.”
“Tentang?”
“Apa
pun.”
Aku
tertawa kecil. “Rancu.”
Fin
tertawa. “Menurutmu?”
“Apa?”
“Perbedaan
itu.”
Aku
berpikir. Diam cukup lama. “Banyak hal yang membuat setiap individu berbeda,
karena mereka memang dilahirkan berbeda,”ujarku. “Kamu tahu teman kita, Kaira
dan Keira, yang selalu hadir di forum?”Fin mengangguk. “Mereka kembar, tapi
tidak identik. Setiap orang tahu, kalau manusia dilahirkan bersama, maka mereka
kembar. Manusia selalu berpikir, kembar itu sama. Tidak ada perbedaan. Tapi,
pada kenyatannya, Kaira dan Keira tidak sama. Mereka berbeda.”
“Dalam
hal?”
“Pemikiran,”sahutku.
“Boleh saja darah yang mengalir di tubuh mereka sama, bentuk hidung mereka
serupa, cara mereka terseyum tak punya beda. Tapi, cara berpikir mereka tidak sama.”Aku menjelaskan bahwa, bisa saja cara
berpikir mereka dipengaruhi oleh diri masing-masing, dari fenomena yang mereka
lihat, dari pergaulan mereka. Bahkan, aku sendiri melihat mereka berbeda. Dari
cara mereka mengikat rambut, dari cara mereka berpakaian. Mungkin juga, mereka
sendiri yang ingin terlihat berbeda.
“Akan
ada saatnya, kita ingin terlihat berbeda, bukan?”lanjutku.
“Apa
kamu setuju, kalau aku bilang perbedaan ada karena kita yang menciptakannya
seperti itu?”ujar Fin. Aku menggendikkan bahu. “Misalnya, kita. Aku terbiasa
berbicara di depan banyak orang, sedangkan kamu tidak. Kamu lebih memilih
menjadi pendengar, orang yang berdiri di belakang panggung.”Dia mengambil jeda.
“Perbedaan semacam itu, merupakan perbedaan yang seharusnya seperti itu. Tidak
semua orang menjadi pembicara, bukan? Pembicara butuh pendengar. Panggung besar
dengan orang-orang hebat pun butuh seseorang yang berdiri di belakang mereka.”
“Ironinya,
kita sendiri yang menentang perbedaan. Perbedaan pendapat, perbedaan dalam
memilih sikap, perbedaan dalam politik. Masalahnya di mana? Perbedaan? Jika,
kita semua sama, kita nggak akan punya pesaing bukan? Apa menariknya?”
“Tapi,
Fin. Ada perbedaan yang memang tidak bisa kita satukan,”sahutku. Fin menatapku,
menautkan kedua alisnya. Aku tersenyum. “Kepercayaan.”
Fin
tersenyum.
“Perbedaan
kepercayaan memang diharuskan untuk hidup bersisihan, tapi bukan di jalan yang
sama, apalagi disatukan.”Aku melanjutkan.
“Ya,
memang akan ada-ada hal yang tak bisa kita satukan. Memang perbedaan diciptakan
untuk bersisihan bukan disatukan. Bagaimanapun, perbedaan tetaplah perbedaan.
Kita nggak bisa mengubah hal itu.”
Aku
tersenyum, kemudian melirik jam di pergelangan tanganku. “Baiklah, sudah
waktunya,”kataku, sembari beranjak dari duduk. Fin melirik jam di pergelangan
tangannya. Saat ia melakukan hal itu, lagi-lagi mataku tertuju pada kalung
salib yang ia kenakan.
“Ah,
iya. Ayo, bareng,”katanya.
Aku
mengangguk dan membetulkan letak jilbabku. Kami berjalan bersisihan ke arah
aula yang terletak di sebelah Masjid.
Seperti
yang kami katakan tadi, ada perbedaan yang tidak bisa kami tembus. Kami hanya
bisa menjalaninya dengan berjalan besisihan. Bukan saling mendahului, bukan
juga dengan berdiri di belakang. Tapi, bersama-sama di jalan kami
masing-masing.
-Wulan Kenanga –
Mojokerto, 29 Desember 2015-12-29
10:43 AM

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)