Advertisement

Main Ad

Lelaki Pemikul Masa Lalu


Beban di pundak lelaki itu lebih berat daripada semestinya. Bukan karena ransel dengan isi laptop 13 inch itu, melainkan ini pertama kalinya lelaki itu datang ke tempat seperti ini. Sebuah kafe terbuka dengan beberapa tenant di sekitarnya.

Lelaki itu menyisir tempat itu berkali-kali. Dia melihat bangunan melingkar dengan satu bangunan sebagai pusat yang berada di tengah-tengah. Pada ujung bangunan sebelah kirinya ada ruangan yang didominasi kaca dan penuh dengan buku yang tertata rapi dalam rak tinggi. Selanjutnya, ada ruangan kosong berisi kursi-kursi dan meja, sebelahnya ada ruangan bernuansa merah muda bertemakan perempuan - bahkan dia tidak bisa menjelaskan apa itu. Ruangan-ruangan lain tidak jauh berbeda; tenant menjual makanan ringan. 

Dia melangkahkan kakinya menuju bangunan yang berada di tengah. Dia berjalan penuh keraguan, tidak seperti biasanya. Lelaki itu tidak pernah mengakui dirinya lemah. Selama hidupnya, dia selalu melangkahkan kaki penuh percaya diri; tidak goyah mengenai apa pun. 

Lelaki itu berhenti di depan kasir. Seorang laki-laki dengan kaus putih yang dibalut celemek berwarna hitam, menyapanya. 

“Halo, Kak. Mau pesan apa?” tanya barista itu. “Silakan dilihat menunya.”

Lelaki itu melihat buku menu yang ada di depannya. Menu itu terdiri dari tulisan yang dicetak digital, tanpa gambar. Isinya hanya sederet minuman, tanpa ada menu makanan ringan maupun makanan berat. Lelaki itu paham. Untuk makan, dia harus datang ke tenant lain.

“Java coffee,” sebutnya. “Hot.” Dia tidak suka minuman dingin. Bukan tidak suka, dia alergi dingin. Lucunya, kampung halamannya di pegunungan. Bertahun-tahun, dia tinggal dan bersahabat dengan cuaca dingin. Tapi, dia alergi dingin. Itu sebabnya, dia sering flu.

Barista menyebutkan total yang harus dibayar lelaki itu. Lalu, lelaki itu mengeluarkan ponselnya untuk membayar tagihannya. Begitu selesai bertransaksi, lelaki itu mencari tempat duduk. Dia memilih duduk di meja yang berada di outdoor, di bawah pohon besar, tepat di depan perpustakaan.

Lelaki itu meletakkan ranselnya di kursi sebelahnya, lalu dia mulai mengeluarkan laptop dari tas dan meletakkannya ke atas meja. Dengan cepat, lelaki itu membuka laptopnya.

Selang beberapa menit, dia sibuk dengan pengkodean di layar laptop. Lalu, barista datang membawa secangkir kopi pesanannya. Detik berikutnya, dia mulai menyesal. Cangkir itu terbuka bebas. Buih susu terlihat jelas di atasnya, membentuk bentuk hati. Di atas lelaki itu terdapat dedaunan yang kapan saja siap jatuh. Kalau dia kurang beruntung, bisa saja salah satu daun kering itu jatuh ke atas kopinya.

Apa yang sedang dia pikirkan? Tidak penting. Lelaki itu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Dulu, baginya bekerja dari kafe seperti yang dilakukannya saat ini adalah hal sia-sia. Bagi lelaki itu, bekerja bisa di kantor atau di rumah. Bekerja di kafe hanya akal-akalan kapitalis, sehingga dia akan mengeluarkan uang lebih dan lebih. Namun, hari ini dia melakukannya. 

Hari ini dia pulang ke kampung halamannya, ke rumah orang tuanya. Dia mendengar ayahnya bicara dengan lelaki itu dengan nada tinggi. Tidak hanya kepadanya, tetapi pun kepada ibunya. Ayahnya seringkali mempermasalahkan hal-hal kecil, terutama sejak lelaki itu memilih untuk berpisah dengan istrinya satu tahun lalu.

Lelaki itu tidak bisa berkonsentrasi di rumah. Maka, dia pergi ke kota, mencari tempat untuk membuka laptop. Lelaki itu menemukan kafe ini dari rekomendasi di internet.

Fokus lelaki itu seketika buyar, ketika mendengar percakapan yang dilakukan sekelompok orang di sebelahnya. 

Orang-orang itu membicarakan seorang penulis yang sedang naik daun. Penulis itu berhasil menerbitkan buku populer dengan penjualan cukup tinggi. Ditambah lagi, salah satu karyanya telah naik ke layar lebar dan membuat nama penulis itu semakin dikenal.

“Kabarnya, Menanti di Ujung Senja pun akan dijadikan film,” ucap salah satu di antara mereka. “Siapa sangka, Mbak Sora itu asli kota M?” tambahnya.

Sora Asih.

Lelaki itu tahu mengenai Sora Asih. Tidak hanya mengetahui, melainkan dia mengenal baik perempuan itu. Kini, jantungnya berdegup dengan cepat setelah mendengar nama itu disebut. Memang, sejak satu tahun terakhir, lelaki itu mengingat Sora Asih. 

Perempuan yang dulu pernah disia-siakannya, seperti kopi yang bertengger di sebelah laptopnya. Kini, hubungannya dengan Sora Asih, dingin.

***


Lelaki itu dan Sora Asih teman sejak masa sekolah. 

Mereka tumbuh di lingkungan yang nyaris sama; berasa dari dusun di kabupaten M, sekolah di tempat yang sama, berkuliah di kampus dan jurusan yang sama. Keduanya saling mengenal sebagai teman sekelas, teman satu kampus, dan bagi Sora, lelaki itu adalah teman berbagi cerita.

Setelah sama-sama masuk di kampus yang sama, Sora sering meminta bantuan lelaki itu. Lama-lama, Sora bercerita mengenai impian-impiannya yakni menjadi seorang penulis. Lelaki itu tidak segan memberi masukkan pada Sora mengenai karya-karyanya. Tentu, tidak jarang lelaki itu menganggap karya Sora biasa saja.

Setelah lulus kuliah, mereka kembali dekat bahkan lelaki itu jatuh hati pada Sora.

Awalnya, lelaki itu menganggap Sora perempuan yang mengagumkan. Perempuan itu teguh dengan impiannya, bahkan dia tekun menulis di personal blog miliknya. Tak jarang, Sora diundang ke acara-acara untuk meliput dan mendapatkan penghasilan dari sana.

Sora, perempuan itu tergila-gila pada lelaki itu. Sampai-sampai, logikanya tidak bisa digunakan. Apa pun yang diminta lelaki itu, Sora iyakan. Seringnya, lelaki itu mendiamkannya selama berhari-hari, ketika Sora membuat kesalahan - yang sebenarnya Sora sendiri tidak tahu apa masalahnya.

Lelaki itu jenuh. Dia merasa Sora Asih membosankan. Perlahan, lelaki itu menjauh dan mengatakan pada Sora bahwa perempuan itu tidak tahu diri.

Lelaki itu merasa Sora bukan perempuan yang diinginkannya. Perempuan itu memiliki pekerjaan tidak jelas, tidak lagi membuat lelaki itu bangga. Ditambah lagi, orang tuanya tidak menyukai Sora Asih. Meskipun mereka belum pernah bertemu dengan perempuan itu.

Lelaki itu membuat Sora Asih pergi dengan sendirinya; dengan menyakiti perempuan itu. 

Kini, lelaki itu dihantam badai masa lalu. Setahun lalu, dia berpisah dengan istrinya - perempuan yang dikiranya pantas berada di sisinya. Kenyataannya, tidak. Istrinya berselingkuh. Tanpa mendengar alasan istrinya, lelaki itu menceraikannya. Baginya, tidak ada kata maaf untuk perselingkuhan.

Tepat saat itulah, dia mengingat Sora Asih. Bagaimana perempuan itu tidak pernah menyakitinya. Menurut padanya. Tapi, dia dengan teganya membuangnya.

Tepat satu tahun lalu, lelaki itu mencari nama Sora Asih di instagram. Mencari tahu bagaimana kehidupan perempuan itu.

Di salah satu foto yang diunggah Sora Asih, lelaki itu melihat sebuah foto yang membuat hatinya semakin pilu.

Sora Asih berfoto dengan seorang laki-laki dan bayi dalam gendongannya.

Lelaki itu hendak meraih cangkir kopinya, tapi sebuah daun kering jatuh di atas kopi dingin itu. Bertahun-tahun lalu, lelaki itu mengajak Sora Asih bertemu di depan kampus mereka. 

Duduk di kursi beton dengan meja penuh daun kering yang sama.

***


Posting Komentar

0 Komentar