Jemariku berhenti mengetik. Layar
komputer jinjing milikku tetap menyala menampilkan lembaran kosong Ms. Word. Pesan
yang masuk dalam whatsapp milikku
sangat menganggu. Sudah berkali-kali, aku mencoba melupakan hal itu, ada saja
yang mengingatkannya.
Kubiarkan pesan itu, tanpa berniat
ingin membalas. Aku kembali berusaha untuk mengisi lembaran kosong di depanku.
Lalu, datang pesan lain, dengan isi yang lebih menyebalkan.
“Nanda, Elvan mau nikah sama Esa! Are you, okay?”
Aku mendesah. Serta merta kuraih smartphone yang terongok di dekat
komputer jinjing , dan langsung kunonaktifkan.
Kutarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya dengan cepat. Berharap dengan begitu, batu yang menghimpit
dadaku terlepas begitu saja. Dua tahun. Dua tahun lamanya aku berusaha untuk
mengenyahkan perasaan itu. Kupikir, saat mendengar berita semacam ini semua
akan baik-baik saja. Kenyataannya, tidak demikian. Aku salah besar.
Dan, kenapa teman-temanku itu tak
pernah berpikir dengan cerdas? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tak seharusnya
terlontar.
Pandanganku teralih pada selembar
kertas berwarna merah marun. Merah yang lebih mirip seperti darah. Seakan-akan,
darah dari lukaku mengalir dalam kertas tersebut dan mengisi setiap pori
kertas.
Elvando
& Esa Sahila
Begitulah
nama yang tertera di atas kertas berwarna darah tersebut. Nama mereka tercetak
dalam tinta emas. Sengaja dibuat sangat kontras dengan dasar warnanya. Seakan-akan,
mereka takut tak seorang pun bisa membaca nama mereka jika tidak dicetak
demikian.
Mana mungkin aku tidak tahu, mereka
akan menikah. Kalau mempelai prianya sendiri yang datang ke rumah mengantarkan
undangan itu.
***
Sebelum
pesan masuk dalam whatsapp yang
datang bertubi-tubi itu, sehari sebelumnya Elvan datang ke rumah. Sarung tangan
berwarna hitam milikknya, ia letakkan di lengan sofa, sedangkan pelindung lutut
beserta jaket dengan warna senada, masih ia kenakan. Sorot matanya tetap sama,
seperti yang kulihat dua tahun yang lalu. Matanya cenderung kecil dan bulat. Jenis
mata yang jarang kutemui pada seorang laki-laki.
Melihat dari penampilannya malam
itu, Elvan baru saja pulang kerja. Dia bekerja di Surabaya, kota di mana
kami dulu bertemu dan menuntut ilmu.
“Apa kabar?”Elvan menutup jurang di
antara kami. Ini adalah pertemuan pertama kami, setelah dua tahun lamanya tak
saling berjumpa dan berkirim kabar. Terkadang, aku merasa aneh. Bagaimana
mungkin, dua orang yang sempat saling mengenal menjadi dua orang yang tak
pernah bertegur sapa.
“Ba-baik,”jawabku, sedikit kikuk. Sial.
Setelah bertahun-tahun, sifatku tak pernah berubah. Selalu saja merasa ada yang
salah ketika di depan Elvan. Seharusnya, aku bisa melakukan hal yang lebih baik
dari ini.
Akhirnya, aku memutuskan kontak mata
kami. Memilin-milin rok terusan hitam yang kukenakan.
“Kamu nggak tanya, bagaimana
kabarku?”Suaranya menyadarkanku. Elvan masih duduk di tempat yang sama, dan
mungkin masih menitiku dengan kedua mata kecilnya.
Kutarik ujung-ujung bibirku, “Apa
kabar?”
“Baik,”jawabnya. Suaranya terdengar
santai. Sama persis seperti suara Elvan dua tahun lalu. Ketika ia mengatakan
hal itu. Ketika ia mampu membuat hatiku jatuh dan berserakan.
Mendengar suara Elvan yang ringan,
mau tak mau menciutkan hati. Elvan mungkin tak pernah tahu, hatiku masih
berlompatan ketika menghadapinya seperti ini.
“Nda,”panggilnya. Dari sekian banyak
orang yang memanggil nama kecilku, An. Hanya keluargaku dan Elvan, yang
memanggilku Nda. Tiga huruf terakhir dari nama kecilku, Nanda. “Kamu tahu, apa
yang membuatku datang ke sini?”
Dahulu, ketika Elvan berkunjung ke
rumah. Selain karena aku memintanya untuk membetulkan ponselku atau untuk
mengerjakan tugas, Elvan datang ke rumah untuk menemuiku. Hanya menemuiku.
Tidak ada alasan khusus. Mungkin, memang karena rumah kami tidak berjauhan
seperti teman-teman kuliah kami lainnya.
Aku menggeleng. Mana mungkin aku
tahu isi hati seseorang? Bahkan, selama masa kuliah kami, aku sama sekali tak
pernah bisa menebak isi hati Elvan.
Elvan menegakkan tubuhnya. Lalu, ia
menyandarkan kedua sikunya di atas lutut. Ia menunduk sebentar, sebelum ia
kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia melakukan itu semua, tanpa
mengalihkan tatapannya dariku.
Aku masih duduk di hadapannya,
menanti kalimat apa yang akan muncul dari bibirnya.
“Untuk ini,”ucapnya. Entah kapan
Elvan mengeluarkannya, mungkin ketika aku menunduk dengan gelisah, atau ketika
pikiranku berkelana ke masa di mana kami masih saling membagi tawa. Aku tak
tahu tepatnya kapan Elvan mengeluarkan kertas berwarna merah marun itu. “Kuharap
apa yang terjadi di masa lalu, tak membuatmu membenciku.”Elvan menyodorkan kertas
merah marun itu kepadaku. Dengan ragu, aku menerimanya.
“Nda,”panggilnya. Tapi, aku tidak
terlalu mendengarkan Elvan, karena perhatianku tengah berpusat pada kertas
marun di tanganku,”aku akan menikah.”
Aku pun kehilangan Elvan untuk kedua
kalinya, seseorang yang sejak awal tak pernah benar-benar kumiliki.
*taken from Klandestin - Prolog
*taken from Klandestin - Prolog

1 Komentar
Njir... siapa yang ngiris bawang dimari!!!!!
BalasHapusTerima kasih sudah berkomentar :)