![]() |
| taken from unsplash.com |
“Maaf, aku suka kamu.”
Dalam
lingkaran pertemanan kami, tak pernah sekalipun kalimat itu terucap. Entah dari
bibirku, apalagi bibirnya. Tak sekalipun, aku berharap ia akan mengatakannya. Bahkan,
ketika aku ingin sekali mendengarkan kalimat itu terucap.
Karena,
ketika kalimat itu benar-benar terucap, aku tak tahu harus berbuat apa.
“Bercandaan
saja kamu, ih!”aku memukul lengannya pelan, sambil tertawa kecil. Tapi, sampai
tawaku mereda, ia tetap berdiri di depanku, menatapku.
Aku
menelan ludah. Ini serius?
Mendadak
aku rikuh. “Ehm, setelah ini, kita ke mana?”mengalihkan topik pembicaraan,
sepertinya adalah pilihan yang tepat.
Hari
ini, kami mendapat tugas dari Forum Ilmu berbelanja kebutuhan untuk berbuka
puasa bersama. Aku dan Fin, pergi ke pasar tradisional, membeli berbagai macam
sayur. Lalu, hujan turun. Kami berteduh di bawah kanopi sebuah toko yang sedang
tutup. Rambut Fin basah kuyup, begitu juga dengan kerudung berwarna abu-abu
yang kukenakan.
Fin
mendesah. Bahunya melorot, aku melihat sorot kekecewaan di sana. Ia mundur,
lalu bersandar pada dinding toko. Kedua tangannya bersendekap di depan dada.
Aku menghampirinya, berdiri di sebelahnya.
Pertemananku
dengan Fin, sekadar mengenai Forum Ilmu, pembicaraan-pembicaraan tak penting
tentang lebih enak mana nasi lembek dan nasi setengah matang untuk bahan nasi
goreng. Dan, terkadang kami melewati batas, dengan bercerita mengenai masalah
kami.
Dan,
setelah empat tahun pertemanan ini, tiba-tiba saja kalimat itu muncul. Padahal
Fin tahu, kami tak akan pernah menjadi kita.
“Sepertinya,
hujannya akan lama,”kataku. Fin tak menanggapi. Ia merogoh saku celananya,
mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. Selama mengenalnya, Fin
selalu menghormati orang-orang di sekitarnya. Terlebih lagi ketika bulan
ramadhan. Kali ini, entah apa yang mengusiknya. Sampai-sampai, ia menjadi bukan
dirinya.
“Kamu
pernah merasa, kalau apa yang kita miliki saat ini sudah lebih dari
cukup?”ucapku. Aku tak tahu Fin mendengarkannya atau tidak. Tapi, aku terus
berkata, “perasaan yang perlu kita syukuri. Rasa yang tak perlu diungkap. Kamu
tahu, kalau selama ini memiliki perasaan itu saja sudah sangat membuatku
bahagia?”
Kali
ini, aku mendongak. Fin masih menatap ke arah orang-orang berlalu lalang di bawah
rintik hujan. Mereka tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuh-tubuh mereka.
Seakan hujan sudah menjadi kawan.
“Aku
menyadarinya, kali pertama kita bertemu. Saat kamu berbicara di depan orang-orang.
Terlihat begitu ringan, tanpa beban. Melihatmu saja, sudah membuat beban yang
ada terasa ringan.”
“Apa
karena kita berbeda?”kali ini, Fin bersuara. Biasanya, dalam perdebatan, ia juaranya.
Ia selalu menang. Kali ini, ia terlihat berbeda. Seakan-akan, ia membawa beban.
Aku
tersenyum. Memahami bagaimana perasaannya. Fin tak pernah tahu, bahwa ada masa
di mana aku pernah bertarung dengan perasaanku sendiri. Mengenai dia. Mengenai
kami. Saat itu, kuyakin, Fin belum memiliki perasaan terhadapku. Saat itu,
selama satu Minggu penuh, aku tidak muncul di kampus. Dalam masa pertaruangan
batin tersebut, aku tak ingin Fin memperkeruh keadaan. Maka, aku memilih untuk
menghindar.
“Kita
sama-sama tahu, apa yang terbaik untuk kita, bukan?”ungkapku.
Fin
menjatuhkan batang rokoknya yang masih tersisa banyak. Lalu menginjak batang
rokok tersebut dengan sepatunya. Ia mengambil tas belanjaan kami, kemudian
berkata. “Hujannya sudah reda. Kita balik sekarang, atau kamu mau ke masjid
dulu?”ucapnya. “Sudah Ashar.”
“Masjid,”jawabku.
Fin tersenyum, lalu mengangguk. Ia berjalan mendahuluiku, membiarkanku melihat
punggungnya menjauh. Memilih menjadi orang pertama yang pergi.
Fin
tak akan pernah tahu, malam ini akan menjadi malam terberat bagiku. Aku harus
membunuh perasaan itu sekali lagi.
- Wulan K. -
Mojokerto, 27 Juni 2016

