Adalah Lelaki Melankolis yang
mengenalkan saya pada gemar membaca. Ketika itu, saya masih kelas tiga di
Sekolah Dasar. Di mana saya baru bisa mengenal huruf ketika kelas dua, yang
berarti saya baru lancar-lancarnya bisa membaca. Ada seorang teman saya yang
membawa majalah Bobo ke kelas, namanya Tama. Selain majalah Bobo, dia juga
membawa beberapa komik. Saat itu, saya sudah tertarik dengan majalah Bobo.
Kemudian, saya ke Jombang, rumah paman saya. Di sana, saya menemukan majalah
serupa milik sepupu. Sepulang dari Jombang, saya meminta Lelaki Melankolis untuk
membeli majalah Bobo.
Waktu itu, kami - Lelaki
Melankolis dan saya - tidak tahu di mana bisa membeli majalah Bobo. Saya pun
tak punya inisiatif bertanya kepada Tama maupun sepupu. Akhirnya, Lelaki Melankolis
membawa saya ke pasar loak di Mojokerto. Di sana selain saya menemukan
barang-barang bekas, saya juga melihat kios-kios buku bekas dan majalah bekas.
Lelaki Melankolis membelikan saya beberapa majalah Bobo bekas.
Awalnya, saya lebih suka membaca
cerita bergambar Nirmala dan Oki, Paman Gembul, dan Bona si Belalai Panjang.
Setiap membeli majalah Bobo - entah baru atau bekas - yang saya baca
cerita-cerita itu saja. Karena saya suka sekali membaca cerita bergambar,
akhirnya saya meminta Lelaki Melankolis membeli komik. Waktu itu, saya
dibelikan komik Crayon Shinchan, Doraemon bahkan sampai Dragon Ball. Tentu,
sebagian merupakan komik bekas. Bahkan, ketika saya harus rawat inap di Rumah
Sakit, yang saya minta adalah komik.
Lambat laun, saya mulai membaca artikel-artikel
yang ada di majalah Bobo. Saat itu, saya masih tertarik menulis puisi,
alih-alih cerpen. Ya, karena waktu itu saya belum pernah membaca cerita pendek
sekalipun. Saya baru membaca cerita pendek ketika masuk kelas satu SMP.
Saya ingat betul, ketika itu guru
Bahasa Indonesia kami meminta mencari kliping sebuah cerita pendek, saya ingat
saya mempunyai majalah Bobo dengan cerita pendek di sana. Saat itulah, saya
mulai menyukai membaca cerita pendek dan mulai menulis cerita pendek.
Jangan ditanya bagaimana tulisan
saya waktu itu. Sangat-sangat buruk. Mengenai tanda baca dan semacamnya. Saya
meletakkan titik (.) setelah tanda seru (!), atau besar kecil huruf yang tak
saya ketahui aturannya. Akan tetapi, dengan tulisan semacam itu, saya berani
mengirimnya ke majalah lokal antar sekolah yang ada di Mojokerto waktu itu.
Kalau teman-teman satu kabupaten dengan saya, pasti tahu majalah PEACE.
Adalah Lelaki Melankolis yang
mengenalkan saya mengenai surat-menyurat lewat kantor POS. Pertama kali
mengirim karya, saya mengirim rubrik puisi, kolom pembaca, dan cerita pendek.
Lelaki Melankolis mengajak saya ke Kantor Pos, setelah sebelumnya saya sudah
memasukkan karya-karya saya ke dalam amplop cokelat dan membeli perangko 2000.
Kami berdiri di depan kotak berkelir oranye yang berada di depan Kantor Pos.
Lelaki Melankolis mengajari saya bagaimana menempelkan perangko ke amplop
cokelat. Beliau meminta saya untuk menjilat bagian belakang perangko, ternyata
begitu saja perangko sudah bisa menempel ke amplop. Lalu, saya memasukkan
amplop ke dalam kotak pos sesuai intruksi Lelaki Melankolis.
Jangan menganggap, karya saya
langsung dimuat. Tidak. Saya harus mengulangi hal serupa beberapa kali, sampai
pada suatu hari ketika saya membeli majalah PEACE di koperasi, saya melihat
karya saya dimuat pada kolom pembaca. Saya senang sekali. Bukan karena saya
mendapatkan honor sebesar Rp. 10.000, tetapi karena kebanggaan diri karya
dimuat.
Hari-hari selanjutnya, puisi saya
dimuat dan beberapa kali jejak pendapat di kolom pembaca. Tak satu pun cerita
pendek saya dimuat waktu itu.
Saya mengenal novel, ketika ke
perpustakaan. Saya meminjam novel karya Mira W. Pertama kali membaca novel,
toko utamanya bernama “Wulan”, yang berarti sama dengan nama saya. Terus
terang, saya terbawa perasaan waktu itu. Ternyata mengenal karakter dalam waktu
lama, membuat duniamu tersedot dalam cerita tersebut. Dari itulah, saya ingin
membaca novel lain. Saat itu, sedang ramai-ramainya film Dealova yang diangkat
dari novel. Saya ingat, saya sudah kelas tiga SMP waktu itu. Saya meminjam
novel tersebut dari seorang teman, Ellen.
Saya jatuh cinta dengan novel
ketika itu. Terlebih lagi, penulis dari Dealova merupakan anak SMA, membuat
saya berpikir bagaimana kalau saya menulis novel saja? Dyan – penulis Dealova-
saja bisa, pasti saya juga bisa. Akhirnya, saya menulis cerita panjang di buku
tulis. Saya menulisnya hingga menghabiskan banyak buku. Teman-teman sekelas
saya yang membaca cerita itu. Meskipun tulisan saya tak keruan serta tanda baca
yang masih salah. Setiap hari, teman-teman saya menagih cerita-cerita saya.
Ketika SMA, saya ingin membeli
novel. Lagi-lagi, Lelaki Melankolis yang saya repotkan. Kami keliling kota
Mojosari mencari novel. Sayangnya, saya tak menemukan satu pun novel. Saya
sampai kesal dengan Lelaki Melankolis, “Kenapa sih, saya harus hidup di kota
kecil ini?” Kekesalan yang saya lampiaskan bukan pada tempatnya.
Ada kejadian lucu ketika
pencarian novel di kota ini. Saya ke kios buku dengan Lelaki Melankolis dan
bilang mencari novel. Saya mengambil buku bersampul merah dengan desain kover
seorang pengantin perempuan. Si penjual buku bilang, “Ya itu novel.” Dan saya
pun membelinya. Ternyata, itu buku untuk orang-orang yang akan menikah. Sebuah
buku bacaan, non-fiksi. Bukan novel.
Cerita pendek pertama saya dimuat
ketika kelas satu SMA ini. Saya senang sekali waktu itu. Saya tak bisa
bagaimana menjelaskan perasaan saya. Setelah sekian lama, akhirnya cerita
pendek saya dimuat. Tentunya, tanda baca tulisan saya membaik. Sudah mulai enak
dibaca. Tentu, Lelaki Melankolis adalah orang pertama yang saya kasih tahu,
ketika di rumah. Lelaki Melankolis akan mengambil kacamatanya dan membaca karya
saya di majalah tersebut. Selalu begitu.
Ketika itu, saya mulai meminta seperangkat
komputer. Saya ingin menulis di komputer. Saya ingin mengirim karya saya ke
penerbit – padahal saya belum tahu bagaimana caranya –. Yang saya pikirkan saat
itu, saya ingin membuat Lelaki Melankolis lebih bangga terhadap saya, lewat
menulis. Jelas, permintaan saya tak langsung dituruti. Ini barang elektronik
yang mewah waktu itu. Tapi saya terus meminta dan meminta. Sampai akhirnya,
Lelaki Melankolis menuruti.
Saya dibelikan seperangkat
komputer pentium 3 bekas. Harganya sekitar satu juta. Sangat mewah waktu itu.
Melalui komputer tersebut, saya mulai menulis. Satu-satunya yang saya pikirkan
adalah saya ingin membuat Lelaki Melankolis bahagia dengan saya sebagai
penulis.
Sayangnya, sampai tulisan ini
saya tulis, keinginan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Saya masih penulis
serabutan, bukan seorang novelis. Lelaki Melankolis adalah orang yang mendukung
segala keinginan dan impian saya, meskipun tak jarang Lelaki Melankolis
menentang hal ini.
Saya tahu, Lelaki Melankolis tak
ingin saya hanya menjadi seorang penulis. Ia ingin saya menjadi seseorang yang
dihormati, mempunyai jabatan dan bermartabat. Sayangnya, saya seseorang yang
keras kepala. Ambisi terlalu tinggi dalam mengejar sesuatu yang saya cintai. Tanpa
sadar, sifat ini diturunkan sendiri dari Lelaki Melankolis. Sifat yang ia didik
dan tunjukan sejak dini.
Tanpa Lelaki Melankolis sadari,
saya adalah cerminan dari dirinya sendiri.
Pernahkah kau membeci seseorang
yang sekaligus membahagiakan orang tersebut?
Lelaki Melankolis adalah
satu-satunya orang yang saya benci, sekaligus satu-satunya orang yang ingin
saya bahagiakan.
Terima kasih, Bapak.
Terima kasih karena sudah terus percaya, meskipun saya belum
membuktikan apa-apa.
Terima kasih karena sudah menekan ego, demi anakmu yang selalu
menentangmu.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.
Saya sayang Bapak.


3 Komentar
Bapak selalu punya tempat tersendiri di hati anak perempuannya. Tempat yang tak bisa dijamah oleh pujaan hati sekalipun. Cinta untuk bapak tak lekang oleh waktu. Duh jadi pengen mewek.
BalasHapusAih melting bacanya. Kebalikan aku ini. Orang mengenalkan aku dengan buku adalah mama. Dan beliau selalu setia membelikanku buku
BalasHapusMbak.... sudah dibaca oleh Ayah dan Ibu.
BalasHapusTerima kasih sudah berkomentar :)