Genangan air ada di mana-mana. Pada
tengah lahan yang cekung, lahan beraspal dekat koridor, dan beberapa di jalanan
kampus. Dedaunan yang gugur pun tak terlewatkan oleh air hujan, ranting-ranting
pohon, rerumputan dan genting-genting pada bangunan-bangunan kampus. Ini bulan
November, seperti lagu milik Guns N’ Roses ”November Rain”.
Sesekali,
air hujan jatuh membasahi buku yang tengah kubaca. Aku duduk di dudukan beton
yang dibangun permanen di bawah pohon Akasia. Biasanya pohon besar itu,
melindungi kami dari teriknya sinar matahari tapi ia tak mampu menahan air
hujan tuk tak jatuh ke bumi. Ketika air hujan itu jatuh dan membasahi salah
satu halaman buku, aku mendesah. Bukan salah air yang jatuh apalagi salah
dedaunan yang menjatuhkannya. Salahku sendiri, karena memilih duduk di tempat
ini. Bukan karena tak ada tempat duduk yang lebih kering atau lebih nyaman
untuk membaca, karena di koridor gedung A5 masih ada bangku-bangku kosong yang
lebih nyaman. Tetapi, aku ingin duduk di sini, mengenang kenangan lima tahun
lalu, kali pertama kami melepas rindu.
Tak
ada yang tahu mengenai hubungan kami, begitu pula teman terbaikku. Tak ada dari
kami yang saling mengungkapkan untuk menjaga rahasia ini. Kami sama-sama enggan
untuk bercerita atau memang tak ada yang bisa diceritakan dari hubungan tak
berstatus ini. Namun, kami sama-sama tahu, kami saling menyukai.
Lelaki
yang selalu membawakanku sebotol yogurt. Tak selalu di merek yang sama. Ia
seringkali membawa merek berbeda, ketika ia menemukan jenis yogurt yang lain. Yang
pasti, dia selalu membawakan rasa strowberry untukku dan rasa leci untuknya. Pertemuan-pertemuan
kami lakukan di kampus, danau dan di tempat-tempat umum lainnya.
Sampai pada
akhirnya, ia pamit dan hubungan kami selesai.
Aku
tidak sengaja datang kemari, usai berkunjung ke rumah seorang teman dekat
kampus. Hatiku tergoda untuk mampir ke gedung-gedung tua yang dulunya, pernah
menjadi rumah kedua aku mengemban ilmu. Gedung-gedung yang riuh oleh
langkah-langkah kaki dan suara-suara mahasiswa. Tak ada yang berubah dari
gedung-gedung ini, kecuali lahan-lahan yang dulunya rerumputan sekarang menjadi
lebih luas dan bersih. Gedung-gedung baru dengan konsep modern yang terbangun
di antara gedung-gedung lama.
Helai-helai
rambutku yang terurai tertiup angin, kurasakan gigil mulai menyerang. Kurapatkan
jaket berkelir merah marun yang kukenakan, berusaha menghalau dingin, meski
hasilnya nihil. Nampaknya, hujan enggan benar-benar pergi sore itu, meskipun
langit hendak menampakkan cahayanya. Sesekali, langit terlihat murung.
Sesekali, ia cerah. Aku meraih buku, menutupnya dan memasukkannya ke dalam
ransel. Memutuskan untuk mengakhiri kenangan pada detik itu. Aku tak mau air
hujan membasahi novel Jane Austen yang baru kupinjam dari seorang kawan,
terlebih lagi aku tak mau Etro terkena air hujan meskipun ia meringkuk dengan
nyaman di dalam tas.
Aku
membuka pintu mobil yang terparkir di depan gedung A5, melemparkan tas ransel
ke atas kursi penumpang, menstater dan mengendarainya, menjauh dari Fakultas
Teknik. Kubelokkan Lancer Sl berkelir abu-abu muda itu ke kanan, ke arah
kantin. Namun, sial aku menabrak mobil yang terparkir sembarangan dan
menghalangi jalanku. Ujung kiri bumper mobil depanku, mengenai ujung kanan
bumper belakang mobil itu.
Aku
mematikan mesin mobil, mengerang pelan, berusaha menenangkan diri karena
jantungku berpacu dan memikirkan segala macam apa yang akan terjadi. Aku turun
dari mobil, berjalan ke arah mobil yang kutabrak. Tepat ketika aku melihat
keadaan bumper mobilku dan mobil yang terparkir sembarangan itu, seseorang
muncul dari balik kap mobil yang ternyata sejak tadi terbuka.
Seorang
lelaki berkaus hitam dengan jaket berkelir hijau matang dan bercelana jins
berwarna navy. Rambutnya sedikit panjang hingga telinga, sesekali tertiup oleh
angin. Tak jauh berubah dari kali terakhir aku melihatnya. Sama halnya
denganku, ia terkejut dengan pertemuan kami yang tiba-tiba ini.
Tak
ada di antara kami yang mengambil langkah terlebih dahulu, tak ada sapaan “Apa
kabar?” ataupun “Hai” yang kami ucapkan. Sampai akhirnya, suara klakson dari
pengendara motor yang tak bisa lewat karena terhalangi oleh kami, membuyarkan segalanya.
Adalah
aku orang pertama yang melemparkan senyum padanya, berucap “Hai,”dan “Apa
kabar.”yang dia jawab dengan ungkapan, dia baik-baik saja, senang bertemu
denganku.
Seharusnya,
aku mengambil langkah seribu untuk pergi darinya, seperti yang pernah ia
lakukan padaku dulu. Sayangnya, hati berkata lain. Ia mengkhianati diriku,
membuatku tetap berdiri di depan lelaki yang pernah pergi tanpa peduli sakit
yang kuderita.
Lelaki
yang selalu membawa sebotol yogurt rasa leci dalam tas ranselnya.


0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)