Pada percakapan kita malam itu,
kau bertanya padaku,”Kenapa suka hujan?”
Aku
diam. Membiarkan detikan jam terus bertambah serta kuota yang terus menerus
terkuras. Terus terang, aku sendiri tak tahu, apa yang kusukai mengenai hujan?
Ia membuat langit muram, jalanan becek, ia membuatku harus mengenakan payung atau jas hujan, dan
yang jelas ia membuat kamar di rumah penuh genangan air.
Mungkin,
aku harus menarik kembali pernyataanku mengenai kecintaanku akan hujan. Mengenai
betapa ia kunanti-nanti kedatangannya. Betapa ia selalu bisa menimbulkan
suasana sendu dan sendirian, yang selalu kurasa.
“Apa?”tanyanya,
lagi. “Oke, aku ganti pertanyaanku,”ujarnya. “Apa yang kaubayangkan ketika ada
hujan? Atau sekadar mendengar kata hujan?”
Aku
masih diam. Kembali berpikir, apa yang ada dalam benakku, ketika hujan turun?
Apa yang akan aku lakukan? Yang jelas, ketika aku di rumah, aku akan
terburu-buru menaikkan kasur busaku, memeriksa buku-buku agar tidak terkena
tetesan air dan menyelamatkan Etro -
kameraku- agar tidak terkena jamur.
Pernah
sekali, Etro kubiarkan saja tergantung di tepi dinding dan beberapa hari
kemudian aku menemukan dua bercak jamur pada lensanya. Aku harus mengeluarkan
uang untuk membersihkan jamur-jamur itu.
“Kalau
aku, ketika hujan turun, aku teringat film. Jurassic Park, Matrix, Twister.”
Lalu,
aku menjawab,”Kopi.”
“Kopi?”
“Ya,”sahutku.”Aku
melihat diriku mengambil salah satu cangkir kesayanganku, mengisi teko dengan
air dan menyeduh kopi.”Aku kembali membayangkan, aku menunggu air mendidih
sembari melihat hujan mengetuk-ketuk genting. Lalu, aku membawa cangkir kopi ke
dalam kamar, membuka laptop untuk menulis atau membaca buku. “Dan mungkin,
sekadar menikmati kopi.”
Aku
tak seperti perempuan kebanyakan yang ingin segera menikah, membagi kebahagiaan
dengan orang lain atau perempuan yang karirnya gemilang dengan gaji melimpah. Aku
hanya ingin menjadi seorang penulis, yang menuliskan ceritanya di tepi jendela
bersama secangkir kopi.
Sayangnya,
seperti yang sudah-sudah, impian sederhana selalu menjadi hal yang teramat
sulit diwujudkan.
Karena menjadi sederhana itu tidak mudah,
kau akan menemukan banyak perhitungan di sana.

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)