Suara suling teko memberikan
keributan di sebuah pagi, saya segera menghampiri suara tersebut dan mematikan
kompor. Mengambil teko dan menuangkan air panas ke dalam gelas gradasi antara
warna abu-abu dan putih. Di dalamnya sudah ada bubuk kopi dan gula. Saya
mengaduknya, sembari mendengar suara hujan yang menatap genting dengan
kerasnya. Suaranya, bersahutan dengan suara Michael Buble dari YouTube yang
berputar di laptop.
Saya membawa gelas berisi cairan
kopi pekat ke meja kerja yang berada di tepi jendela kaca, menampilkan air
hujan yang menempel pada permukaannya. Saya meletakkan cangkir tersebut di sisi
kanan komputer portable dan mulai menulis.
Saya akan menulis mengenai
tokoh-tokoh rekaan yang saya ciptakan, membuat salah satunya jatuh dari sepeda,
patah hati hingga mau bunuh diri, tertawa sampai mengeluarkan air mata dan berdiam
diri tak tahu hendak mau apa.
Pada bagian-bagian yang saya
tulis itu, ada impian-impian yang saya kejar sejak belia, ketika seorang anak
perempuan menginginkan dirinya dikenal sebagai penulis. Beberapa tahun yang
lalu, sayangnya hingga saat ini, impiannya itu belum juga terwujud. Entah Tuhan
tak mengizinkan atau justru dia sendiri tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Bahkan,
tiga paragraf di atas adalah rekaan belaka.
Tak ada meja kerja dekat jendela
kaca, tak kehidupan sedamai itu, kecuali mengenai Michael Buble, teko dan gelas
berkelir abu-abu.

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)