Saya selalu menyukai isu-isu
mengenai perempuan. Baik itu mengenai kekerasan seksual, percintaan, patah
hati, bahkan depresi. Seakan-akan, isu mengenai perempuan tak ada habisnya.
Stigma di masyarakat, menekan perempuan dengan kerasnya. Mirisnya, tak hanya
dari laki-laki, pun dari perempuan sendiri. Seakan semua hal digantungkan pada
pundak perempuan. Perempuan harus begini, perempuan harus begitu. Selalu
seperti itu dan terjadi selama bertahun-tahun.
Nyatanya, patriarki tak hanya
terjadi di Indonesia. Pun di Korea. Dan mungkin, di negara-negara yang lain
juga terjadi hal serupa. Isu inilah yang diangkat penulis Cho Nam-Joo dalam
bukunya Kim Ji-Yeong – lahir tahun 1982.
Kim Ji-Yeong adalah gambaran
perempuan masa kini, apabila dirunut dari tanggal lahirnya, maka sekarang dia
berusia 37 tahun. Seorang ibu muda dengan suami yang penuh perhatian dan juga
tampan.
Pada awal novelnya, Cho Nam-Joo
menggambarkan gejala depresi Kim Ji-Yeong. Perempuan beranak satu itu, mulai
bertingkah aneh. Dia sering hilang ingatan dan menjadi orang lain; orang-orang
terdekatnya. Mulai menjadi ibunya sendiri dan sahabatnya. Usai itu, dia tidak
mengingat apa pun. Suaminyalah yang menyadari hal tersebut.
Suami Kim Ji-Yeong, akhirnya
menemui psikolog untuk berkonsultasi mengenai hal tersebut.
Dalam buku ini, saya dibawa ke
masa muda Kim Ji-Yeong, di mana kelahirannya tak pernah diinginkan. Di Korea,
kelahiran anak laki-laki yang selalu diharapkan. Bahkan, ibu Kim Ji-Yeong
menggugurkan kandungannya, setelah tahu anak ketiganya perempuan. Dan ketika
mengatakan hal tersebut kepada suaminya, suaminya bukannya menenangkan dia
justru menekan istrinya.
Cerita-cerita terus berlanjut,
bagaimana perasaan Kim Ji-Yeong yang tak bisa ia suarakan. Dia hanya bisa
mengatakan hal yang sebenarnya tak ingin dikatakannya, demi menjaga perasaan
orang lain. Dengan kata lain, dia memilih diam. Menyuarakan pendapat pada
masyarakat misogonis sangatlah sulit. Saya merasakan sendiri, bagaimana menjadi
perempuan. Menggoreng kerupuk dan tidak mekar saja, kamu bisa dinilai tidak
akan bisa bertahan lama hidup bersama mertua.
Selama membaca buku ini, saya
tidak merasakan kebahagiaan apa pun. Seakan saya mengiyakan semua cerita yang
ada dalam buku ini. Bahkan, penulis tidak perlu repot-repot memberikan
kebahagian bagaimana Kim Ji-Yeong bertemu suaminya. Hal ini benar-benar membuat
saya frutrasi.
Kim Ji-Yeong harus meninggalkan
pekerjaannya dan mengurus anak. Di situlah puncak depresi perempuan itu. Ketika
hendak bekerja kembali, ada saja halangan yang membuat ia mengurungkannya.
Selain membaca buku ini, saya pun
menonton filmnya. Menonton filmnya, masih ada kebahagiaan. Akan tetapi, pada
puncak konflik, saya menangis tiada henti. Berbeda dengan bukunya, pada filmnya
ada sedikit kebahagiaan.
Yah, isu mengenai perempuan
selalu menarik untuk dinikmati. Seakan menjadi perempuan, tak membuat saya
benar-benar mengenal perempuan.

1 Komentar
Kok penasaran ama bukunya. Kayaknya cerita melankolis nih. Huhi
BalasHapusTerima kasih sudah berkomentar :)