Waktu itu, saya masih berkuliah.
Mencari-cari dan mengumpulkan novel karya Winna Efendi. Saya menemukan buku ini
di Rumah Buku Surabaya. Tanpa pikir panjang, saya mengambil buku langkah dan
tinggal satu-satunya itu, membawanya ke kasir. Membuka halaman pertama,
menghidu aromanya; saya sangat bahagia waktu itu.
Sejujurnya, tak ada yang istimewa
dari novel karya Winna Efendi ini. Unforgettable
bercerita mengenai dua orang yang bertemu di kedai wine. Bahkan, keduanya tidak diberikan nama khusus, akan tetapi
cerita mengalir begitu saja. Keduanya bercerita mengenai apa saja; cinta, masa
lalu, film, lagu, wine dan
sebagainya.
Tak ada adegan khusus selama
cerita berlangsung, keduanya hanya mengobrol; perempuan itu seorang penulis,
dia menulis di tepi jendela dan lelaki itu datang ke kedai wine sebagai tempat pelarian. Keduanya menobrol dan terus menerus
seperti itu.
Terkadang, saya tidak benar-benar
menikmati sebuah cerita dari alur yang diberikan sang penulis. Saya juga
menyukai rangkaian kata yang disambung menjadi kalimat, paragraf, hingga cerita
dalam novel itu selesai.
Apabila kamu menyukai novel
dengan banyak adegan, tidak akan bisa menikmati novel ini. Sejujurnya, novel
ini mengingatkan saya akan film Before Sunrise. Dalam film tersebut, tak banyak
adegan, hanya dua orang yang bertemu di kereta. Sepanjang perjalanan film
tersebut, lebih banyak berdialog alih-alih adegan. Ketiga seri film tersebut,
memiliki konsep yang sama.
Winna sendiri mendefinisikan
novel ini mengenai menunggu. Seorang perempuan yang menunggu datangnya cinta,
meskipun akhir cerita tidak selalu indah. Bagi saya, begitulah akhir sebuah
cerita; tidak selalu bahagia. Karena bahagia selamanya, hanya sebuah dongeng.
Tak ada kehidupan dalam kata “selamanya”.
Karena cinta punya masanya
sendiri. Meminjam kalimat Raditya Dika, cinta memiliki kedaluwarsa.

0 Komentar
Terima kasih sudah berkomentar :)