Aku mengenalnya, hampir seumur
hidupku. Kami tumbuh bersama dalam kotak-kotak pendidikan sejak dalam balutan
putih abu-abu. Dia, bukanlah sahabatku. Bukan seseorang yang selalu bersamaku.
Aku hanya mengenalnya sebagai sosok yang jarang berbicara dan di luar
jangkauanku. Kami memiliki obsesi, impian dan pandangan hidup yang serupa.
Sayangnya, itu tak cukup membuat kami bisa terus bersama.
Aku adalah orang pertama yang
melangkah mendekat, sosoknya yang misterius membuatku tertarik tuk terus
mencari tahu. Mataku, adalah mata yang selalu mencari-cari sosoknya di antara seragam
putih abu-abu. Dia, lelaki yang datang terlambat ketika pelajaran tambahan
Bahasa Inggris.
Hari itu, bukan kali pertama aku
mengenalnya. Kami sudah berada di atap yang sama selama setahun penuh. Tapi,
pagi itu adalah kali pertama aku tertarik pada lelaki itu, yang belakangan
kupanggil dia, K.
Tuhan tak akan pernah memberikan
sesuatu tanpa sebuah alasan, aku selalu percaya itu. Begitu pula akan ada
alasan, kenapa Tuhan memberikan jalan serupa dengan K. Dengan lelaki yang
selalu jauh dari jangkauanku, meskipun kami seringnya berada dalam lingkaran
yang sama.
K, adalah lelaki yang membantuku mengerjakan
rangkaian digital yang tak pernah kupahami. Dia rela datang ke kampus
malam-malam, demi membantu membetulkan komputer jinjingku, meskipun tubuhnya
sedang tak sudi terkena angin malam. K, adalah satu-satunya lelaki yang membaca
setiap kata yang kutorehkan dalam lembar-lembar Microsoft Word. K, adalah satu-satunya
lelaki yang memintaku untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang muslimah.
K, adalah lelaki yang ingin
kurengkuh, sekaligus kuhindari. Karena, sejak awal aku tahu, kami berada di
frekuensi yang berbeda.
“Aku di rumahmu,”kirim K pada
pesan masuk akun facebook milikku siang itu. Aku membacanya, ketika ia sudah
pamit. Ketika itu, aku tengah terlelap dalam mimpi-mimpi, hingga kakakku
menghancurkannya dan berkata K ada di depan.
K datang untuk membeli buku
perdanaku. Tentu saja, itu bukan buku solo. Itu buku kumpulan cerita yang
kutulis bersama penulis yang lain. K, lelaki yang selalu mendukungku,
mengagumiku itu datang dengan aura tenangnya. Aura yang selalu membuatku merasa
baik-baik saja.
Pada kesempatan lain, K datang
kembali. Kini, dia jauh lebih berbeda daripada sebelumnya. Ia sudah memantapkan
dirinya, memegang teguh Tuhan-Nya. Ia mulai menumbuhkan jenggot, memakai celana
di atas mata kaki dan enggan bersentuhan dengan lawan jenis. K, semakin menjauh
dari duniaku. Ia semakin sulit untuk dijangkau. Dan aku pun semakin menjauh
darinya.
Ia datang tidak dengan tangan
kosong. Ia membawa buku sirah Nabi Muhammad SAW. Buku dengan ketebalan lima
centimeter tersebut, tak pernah berhasil kuselesaikan. Berkali-kali aku mencoba
membacanya, berkali-kali pula aku menyerah.
Aku semakin yakin, bahwa kami
memang tak berada dalam ruang lingkaran yang sama.
Sekali lagi, aku tak pernah tahu
apa yang Tuhan rencanakan. Meskipun aku selalu percaya, setiap apa yang Tuhan
rencanakan ada sebuah alasan di baliknya.
K, datang dalam kehidupanku.
Bukan sebagai seorang pengagum, bukan sebagai seorang lelaki yang selalu rela
membaca karya-karyaku. Tetapi, sebagai calon imanku.
***
“Aku memikirkanmu,”ia mengirim
pesan padaku pada bulan Juni. Ketika aku berjalan menyusuri setapak demi
setapak kebun istana Keraton Yogyakarta. Kedatanganku ke Jogja tentu bukan
tanpa sebuah alasan, ke sana aku membawa sebuah harapan. Untuk mimpi-mimpiku
yang telah lama kukejar, K, tahu itu.
“Kenapa?”balasku.
“Entahlah,
tiba-tiba saja.”
Tak
urung, pesan singkat dari K membuatku melambung. Ada hal-hal yang kutolak dari
hatiku, ada juga kebahagiaan yang terselip di sana. Ada masa di mana aku takut
saat-saat seperti ini akan datang. Berkali-kali kuyakinkan diri, bahwa tidak
apa-apa. Memang sudah saatnya. Mungkin, bila lelaki lain yang berkata demikian
tak akan ada beban yang kupikirkan, mungkin hanya akan ada rasa bagaimana cara
kumenumbuhkan rasa suka? Bukan, justru beban, apakah K bisa menerimaku?
Jauh
sebelum K, mengirim pesan itu. Jauh ketika pemikiran-pemikiran mengenai
bersanding dengan K muncul dalam otakku dan menjelma menjadi sebuah harapan.
Aku berkata kepada sahabatku,”Aku takut.”
Takut
mengenai ajaran-ajaran yang akan diberikan oleh K, tuntutan-tuntutan mengenai
menjadi muslimah yang baik, kewajiban-kewajiban yang harus aku lakukan.
“Kamu
diajak menjadi baik, kok nggak mau sih,”ujar sahabatku waktu itu. Kala itu,
hatiku masih dalam sebuah bongkahan batu. Keras dan terus menyangkal, bahwa aku
tak pantas untuk K, bahwa aku bukanlah perempuan yang tepat untuk K.
Dan
kini, ketika ia memiliki niat baik untuk lebih mengenalku, kuenyahkan
pemikiran-pemikiran tersebut. Meskipun dalam hati kecilku masih ada keraguan
yang teramat besar. Selama ini, akulah yang mengenal K. Aku adalah orang
pertama yang mengambil langkah untuk mendekat. K, baru akan mengenalku lebih
jauh. Bukan sebagai seorang penulis yang membuatnya kagum. Lebih jauh daripada
mengenai profesi yang ia kagumi. Jauh dari itu. Justru, itulah yang membuat
hatiku menjadi kepingan-kepingan yang mengharuskan untuk segera pergi. Begitu
saja, setelah makna indah yang ia berikan.
Maka,
kubiarkan hatiku jatuh padanya, lagi.
***
(792017)
