Sudah hampir
satu jam kami duduk di dudukan beton di tepi danau. Danau buatan yang berada di
tengah-tengah kampus. Berada di antara kantin yang riuh dan masjid yang teduh.
Aku, sejak kedatanganku tadi hanya memberikan tatapan sendu tanpa mengeluarkan
satu kata pun. Sedangkan dia, sedari tadi berbicara mengenai dirinya, kondisi
tubuhnya, pemikiran-pemikirannya, dan kekhawatiran-kekhawatirannya akan masa
depan.
Sesungguhanya,
pertemuan ini dialah yang memulainya. Mempertanyakan hubungan kami – hubungan
yang ingin tak ingin ia lakukan. Maka, ia pun merasa gamang. Sebenarnya, apa
yang kami lakukan, sedangkan ini bertolak belakang dengan prinsip hidupnya.
Aku masih
membisu.
Dan dia terus berseru.
Sayup-sayup
lantunan lagu My Heart Will Go On terdengar dari kejauhan. Nampaknya, dari arah
kantin kampus.
Every night in my dreams
I see you, I feel you,
That is how I know you go on
Lagu itu, lagu
yang populer dalam film Titanic itu, pernah menjadi salah satu lagu yang
mengingatkanku akan dirinya. Akan dirinya yang ingin terlihat keren seperti
Jack dalam Titanic – memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pikiranku
melayang ke masa-masa SMA kami, masa di mana kami hanya saling tahu nama satu
sama lain. Tak pernah menyangka, kini, kami sedekat ini.
Aku bisa mencium
wangi khas dari pakaian yang ia kenakan dari sini. Aroma lambat laun yang
mungkin akan membuatku selalu tersenyum ketika menghidunya, atau justru aroma
yang akan membuatku ingin mati saja karena mengingatkanku padanya. Salah
satunya, pasti akan kualami nanti.
Karena aku sudah mengambil risiko
dengan memilih untuk tetap tinggal.
“Tak
ada yang ingin kau katakan?”tanyanya, setelah selama bermenit-menit bercerita
mengenai daya tahan tubuhnya yang begitu lemah. Ia kelelahan bekerja, tetapi ia
tak pernah ingin meninggalkan pekerjaannya. Ingin berbuat sesuatu yang berguna
untuk orang lain, katanya. Ia rela sakit, demi ilmu pengetahuan.
Bagi
sebagian orang, itu pemikiran konyol. Mungkin bagiku juga demikian, tetapi anehnya
aku menyukainya.
Aku
menoleh, menatap kedua matanya, kemudian berpaling.
Mungkin
ini sifat kekanakanku, sengaja tidak mempedulikannya, meskipun ia berkali-kali
mencoba membuatku bicara. Ya, aku ingin dia tahu, aku marah.
Kami
sama-sama diam. Aku memperhatikan burung-burung merpati berterbangan di sekitar
danau. Mendarat di tepi danau, kemudian kembali terbang ke rumahnya yang berada
di tengah-tengah danau.
Sesekali,
orang-orang melewati kami. Melihat kami sekilas, seakan penasaran apa yang kami
lakukan saat ini.
“Air
itu komponen penting bagi kehidupan,”ia kembali bersuara. Mengisi kekosongan
diantara kami, mengambil alih keadaan. Serta merta, perhatianku tertuju pada
air danau di hadapan kami. Aku yakin, dia juga melihat ke arah air danau. “....dalam
agama kita, Islam, air banyak dibahas dalam Al-Qur’an.”Ia terus melanjutkan,
tak peduli aku mendengarkan atau tidak. Ia terus bercerita, mengisi kekosongan.
Hening yang kuciptakan dan dia berusaha untuk membuatnya gaduh, dengan
pengetahuannya. Segala hal yang bisa memberinya manfaat, selalu membuatnya
tertarik.
“Bagaimana
Allah membuat air turun dari langit, membasahi bumi yang kering, karena adanya
air tadi, tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah. Rejeki untuk kita.
Untuk manusia.”
Aku
melihat ke arahnya, ia melihatku balik. Aku kembali berpaling. Dia melanjutkan,”Dalam
kepercayaan Nordik, saat terjadi Ragnarok raksasa Surtr membuat Dunia Tengah,
Midgard, dalam lautan api dengan satu sapuan pedang apinya. Semua terbakar tak
ada yang tersisa.”Belakangan dia suka membaca mengenai Mitologi, cerita yang
sedang ia sampaikan padaku adalah cerita yang ia dapatkan dari buku-buku itu. “Lalu,
air laut naik memadamkan api itu. Di tanah Midgard muncul kembali tumbuhan.
Mereka yang selamat kembali memulai kehidupan.”
Ia
masih melanjutkan, mengenai air pada kepercayaan Kristiani ada air suci. Air
yang dipercaya mampu mengalahkan roh jahat. Dia terus bercerita, memberikan
informasi tersebut padaku. Tak peduli aku yang hanya diam dan sama sekali tak
memperhatikannya. Tetapi, dia pasti tahu. Aku peduli. Aku mendengarkannya.
Karena
tak ada hal yang lebih menarik saat ini, kecuali dia.
“An,
tak ada yang ingin kau katakan?”ia kembali bertanya. Aku diam. Dia melihat ke
layar ponselnya. “Pukul sepuluh lebih limabelas menit,”katanya. Sudah satu jam
lebih lima belas menit, kami di sini. “Kalau tak ada yang ingin kau ucapkan,
ayo pulang.”
Aku
masih diam. Belum ingin pulang. “Kalau kamu masih mau di sini, aku pulang dulu,”katanya,
ketika sebelumnya telah menawariku untuk mengantarku ke parkiran.
“Assalamualaikum,”dia
pamit. Berjalan pergi, tanpa menungguku menjawab salamnya. Setelah tiga langkah
yang ia peroleh, aku bersuara.
“Mas,”panggilku.
Tangisku hampir pecah, aku berpaling. Mungkin, saat ini dia begitu kesal
menghadapi sifat kekanakanku. Dia bisa saja tak peduli dengan panggilanku, tak
peduli denganku lagi. Tapi, dia membalikkan badannya, berjalan kembali ke
arahku. Duduk di sampingku, lebih dekat daripada tadi.
Saat itu ingin sekali kukatakan padanya, aku ingin bersamamu, aku ingin bersamamu, aku ingin bersamamu. Berkali-kali, agar dia yakin. Namun, yang keluar dari bibirku adalah “Kita
gimana?”tanyaku padanya, dengan begitu lirih.
“Baik-baik
saja,”jawabnya. "Aku tidak akan pergi darimu."Begitu saja. Begitu saja, membuatku lebih baik.
Dia
menemaniku di sini, di pagi menjelang siang, sampai waktu dzuhur.

1 Komentar
Hiks sedihnya
BalasHapusAku malah membayangkan danau yang ada di kampusku dulu
Di situ, banyak kisah
Terima kasih sudah berkomentar :)